pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah keunggulan seseorang atau beberapa individu dalam kelompok,
dalam proses mengontrol gejala-gejala sosial
Brown (1936) berpendapat bahwa pemimpin tidak dapat dipisahkan dari kelompok,
akan tetapi boleh dipandang sebagai suatu posisi dengan potensi tinggi di
lapangan. Dalam hal sama, Krech dan Crutchfield memandang bahwa dengan kebaikan
dari posisinya yang khusus dalam kelompok ia berperan sebagai agen primer untuk
penentuan struktur kelompok, suasana kelompok, tujuan kelompok, ideologi
kelompok, dan aktivitas kelompok.
Kepemimpinan sebagai suatu kemampuan meng-handel orang lain untuk memperoleh
hasil yang maksimal dengan friksi sesedikit mungkin dan kerja sama yang besar,
kepemimpinan merupakan kekuatan semangat/moral yang kreatif dan terarah.
Pemimpin adalah individu yang memiliki program/rencana dan bersama anggota
kelompok bergerak untuk mencapai tujuan dengan cara yang pasti.
Muncul dua pertanyaan yang menjadi perdebatan mengenai pemimpin,
Apakah seorang pemimpin dilahirkan atau ditempat?
Apakah efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dialihkan dari satu organisasi
ke organisasi yang lain oleh seorang pemimpin yang sama?
Untuk menjawab pertanyaan pertama tersebut kita lihat beberapa pendapat berikut
:
Pihak yang berpendapat bahwa “pemimpin itu dilahirkan” melihat bahwa seseorang
hanya akan menjadi pemimpin yang efektif karena dia dilahirkan dengan
bakat-bakat kepemimpinannya.
Kubu yang menyatakan bahwa “pemimpin dibentuk dan ditempa” berpendapat bahwa
efektivitas kepemimpinan seseorang dapat dibentuk dan ditempa. Caranya adalah
dengan memberikan kesempatan luas kepada yang bersangkutan untuk menumbuhkan
dan mengembangkan efektivitas kepemimpinannya melalui berbagai kegiatan
pendidikan dan latihan kepemimpinan.
Sondang (1994) menyimpulkan bahwa seseorang hanya akan menjadi seorang pemimpin
yang efektif apabila :
seseorang secara genetika telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan
bakat-bakat tersebut dipupuk dan dikembangkan melalui kesempatan untuk
menduduki jabatan kepemimpinannya ditopang oleh pengetahuan teoritikal yang
diperoleh melalui pendidikan dan latihan, baik yang bersifat umum maupun yang
menyangkut teori kepemimpinan.
Untuk menjawab pertannyaan kedua dapat dirumuskan dua kategori yang sudah
barang tentu harus dikaji lebih jauh lagi:
Keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi dengan sendirinya dapat
dilaihkan kepada kepemimpinan oleh orang yang sama di organisasi lain
Keberhasilan seseorang memimpin satu organisasi tidak merupakan jaminan
keberhasilannya memimpin organisasi lain.
Tipe-tipe Kepemimpinan :
Tipe Otokratik
Semua ilmuan yang berusaha memahami segi
kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik
dipandang sebagai karakteritik yang negatif.
Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang
sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang
menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :
kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam
organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan
martabat mereka
pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa
mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para
bawahannya.
Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.
Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:
menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi
menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan.
1. Tipe Kepemimpinan Kharismatis
Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan
yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut
yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya.
Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power)
dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang
Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan
berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik
memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.
2. Tipe Kepemimpinan Paternalistis/Maternalistik
Kepemimpinan paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang
kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut: (1) mereka menganggap bawahannya
sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan,
(2) mereka bersikap terlalu melindungi, (3) mereka jarang memberikan kesempatan
kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri, (4) mereka hampir tidak
pernah memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif, (5) mereka
memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau
bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri, (6)
selalu bersikap maha tahu dan maha benar.
Sedangkan tipe kepemimpinan maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan
paternalistik, yang membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat
sikapover-protective atau terlalu melindungi yang sangat menonjol disertai
kasih sayang yang berlebih lebihan.
3. Tipe Kepemimpinan Militeristik
Tipe kepemimpinan militeristik ini sangat mirip dengan tipe kepemimpinan
otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah: (1)
lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando, keras dan sangat otoriter,
kaku dan seringkali kurang bijaksana, (2) menghendaki kepatuhan mutlak dari
bawahan, (3) sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan
tanda-tanda kebesaran yang berlebihan, (4) menuntut adanya disiplin yang keras
dan kaku dari bawahannya, (5) tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan
kritikan-kritikan dari bawahannya, (6) komunikasi hanya berlangsung searah.
4. Tipe Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative, Dominator)
Kepemimpinan otokratis memiliki ciri-ciri antara lain: (1) mendasarkan diri
pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi, (2) pemimpinnya selalu
berperan sebagai pemain tunggal, (3) berambisi untuk merajai situasi, (4)
setiap perintah dan kebijakan selalu ditetapkan sendiri, (5) bawahan tidak
pernah diberi informasi yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan
dilakukan, (6) semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan
atas pertimbangan pribadi, (7) adanya sikap eksklusivisme, (8) selalu ingin
berkuasa secara absolut, (9) sikap dan prinsipnya sangat konservatif, kuno,
ketat dan kaku, (10) pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila
mereka patuh.
5. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire
Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin, dia membiarkan
kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidak
berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan
tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. Pemimpin hanya
berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki keterampilan teknis, tidak mempunyai
wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah, tidak mampu melaksanakan koordinasi
kerja, tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif. Kedudukan sebagai
pemimpin biasanya diperoleh dengan cara penyogokan, suapan atau karena sistem
nepotisme. Oleh karena itu organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan
kacau balau.
6. Tipe Kepemimpinan Populistis
Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang
tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar
negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap
nasionalisme.
7. Tipe Kepemimpinan Administratif/Eksekutif
Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan
tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari
teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan
dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem
administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. Pada tipe
kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi,
indutri, manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat.
8. Tipe Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang
efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua
bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri)
dan kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada
pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga
kelompok.
Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan
nasehat dan sugesti bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan
bidangnya masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif
mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat.
Refleksi dari Tipe Kepemimpinan tsb:
Pada dasarnya Tipe kepemimpinan ini bukan suatu hal yang mutlak untuk
diterapkan, karena pada dasarnya semua jenis gaya kepemimpinan itu memiliki
keunggulan masing-masing. Pada situasi atau keadaan tertentu dibutuhkan gaya
kepemimpinan yang otoriter, walaupun pada umumnya gaya kepemimpinan yang
demokratis lebih bermanfaat. Oleh karena itu dalam aplikasinya, tinggal
bagaimana kita menyesuaikan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan dalam
keluarga, organisasi/perusahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang menuntut
diterapkannnya gaya kepemimpinan tertentu untuk mendapatkan manfaat.
Teori Kepemimpinan
Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang memuat dua hal pokok yaitu:
1. pemimpin sebagai subjek, dan.
2. yang dipimpin sebagai objek.
Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun
dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai tanggung jawab
baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan aktivitas kerja dari
yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak mudah dan tidak akan setiap
orang mempunyai kesamaan di dalam menjalankan ke-pemimpinannya.
Mitos-mitos Pemimpin
Mitos pemimpin adalah pandangan-pandangan atau keyakinan-keyakinan masyarakat
yang dilekatkan kepada gambaran seorang pemimpin. Mitos ini disadari atau tidak
mempengaruhi pengembangan pemimpin dalam organisasi.
Ada 3 (tiga) mitos yang berkembang di masyarakat, yaitu mitos the Birthright,
the For All – Seasons , dan the Intensity. Mitos the Birthright berpandangan
bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan dihasilkan (dididik). Mitos ini berbahaya
bagi perkembangan regenerasi pemimpin karena yang dipandang pantas menjadi
pemimpin adalah orang yang memang dari sananya dilahirkan sebagai pemimpin,
sehingga yang bukan dilahirkan sebagai pemimpin tidak memiliki kesempatan
menjadi pemimpin
Mitos the For All – Seasons berpandangan bahwa sekali orang itu menjadi
pemimpin selamanya dia akan menjadi pemimpin yang berhasil. Pada kenyataannya
keberhasilan seorang pemimpin pada satu situasi dan kondisi tertentu belum
tentu sama dengan situasi dan kondisi lainnya. Mitos the Intensity berpandangan
bahwa seorang pemimpin harus bisa bersikap tegas dan galak karena pekerja itu
pada dasarnya baru akan bekerja jika didorong dengan cara yang keras. Pada
kenyataannya kekerasan mempengaruhi peningkatan produktivitas kerja hanya pada
awal-awalnya saja, produktivitas seterusnya tidak bisa dijamin. Kekerasan pada
kenyataannya justru dapat menumbuhkan keterpaksaan yang akan dapat menurunkan
produktivitas kerja.
Atribut-atribut Pemimpin
Tipe, gaya, perilaku kepemimpinan
Dari literature diketahui ada teori yang menyatakan bahwa pemimpin itu
dilahirkan, bukan dibuat. Ada pula yang menyatakan bahwa pemimpin itu terjadi
karena adanya kelompok-kelompok orang-orang, dan ia melakukan pertukaran dengan
yang dipimpin. Teori lain mengemukakan bahwa pemimpin timbul karena situasi
yang memungkinkan ia ada. Dan teori paling muktahir melihat kepemimpinan lewat
prilaku organisasi.
• Kepemimpinan adalah seni seorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahan, agar
mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi.
A. Gaya Kepemimpinan
• Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang digunakan pemimpin di
dalam mempengaruhi para pengikutnya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku
yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi
perilaku orang lain seperti yang ia lihat
1• Gaya Kepemimpinan Kontinum (Robert Tannenbaum dan Warren Schmidt)
2• Gaya Kepemimpinan Managerial Grid (Robert R Blake dan Jane S Mouton)
3• Gaya Kepemimpinan Tiga Dimensi dari Reddin
4• Gaya Kepemimpinan Empat Sistem Manajemen dari Likert
B. Kepemimpinan Pancasila
Kepemimpinan Pancasila ialah bentuk
kepemimpinan yang selalu menyumberkan diri pada nilai-nilai luhur dari
norma-norma pancasila. Semangat kepemimpinan pancasila itu dapat terwujudkan,
apabila nilai-nilai luhur yang diwariskan nenek moyang dapat dipadukan dengan
nilai-nilai modernisasi yang positif, antara lain dengan ciri demokratis,
rasional, kritis, efisien-efektif, dan berdisiplin tinggi.
C. Kepemimpinan Situasional
Kepemimpinan situasional menurut Hersey dan
Blanchard didasarkan pada saling berhubungannya hal-hal berikut ini:
1. Jumlah petunjuk dan pengarahan yang diberikan oleh pimpinan
2. Jumlah dukungan sosioemosional yang diberikan oleh pimpinan
3. Tingkat kesiapan atau kematangan para pengikut yang ditunjukkan dalam
melaksanakan tugas
khusus, fungsi atau tujuan tertentu.
Penekanan dalam kepemimpinan
situasional ini hanyalah pada perilaku pemimpin dan bawahannya saja. Perilaku
pengikut atau bawahan ini amat penting untuk mengetahui kepemimpinan
situasional. Karena bukan saja pengikut sebagai individu bias menerima atau
menolak pemimpinnya, tetapi sebagai pengikut secara kenyataannya dapat
menentukan kekuatan pribadi apapun yang dimiliki pemimpin.
2. Tuliskan tipe gaya dan perilaku pemimpin
1. Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian
Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala
keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala
pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter
tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.
2. Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya
pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada
permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam
gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas
serta tanggung jawab para bawahannya.
3. Gaya Kepemimpinan Bebas / Laissez Faire
Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam
kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan
tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi.
Keempat gaya kepemimpinan berdasarkan kepribadian adalah :
1. Gaya Kepemimpinan Karismatis
2. Gaya Kepemimpinan Diplomatis
3. Gaya Kepemimpinan Otoriter
4. Gaya Kepemimpinan Moralis
Gaya Kepemimpinan Karismatik
Kelebihan gaya kepemimpinan karismatis ini
adalah mampu menarik orang. Mereka terpesona dengan cara berbicaranya yang
membangkitkan semangat. Biasanya pemimpin dengan gaya kepribadian ini visionaris.
Mereka sangat menyenangi perubahan dan tantangan.
Mungkin, kelemahan terbesar tipe kepemimpinan model ini bisa di analogikan
dengan peribahasa Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Mereka mampu menarik orang
untuk datang kepada mereka. Setelah beberapa lama, orang – orang yang datang
ini akan kecewa karena ketidak-konsisten-an. Apa yang diucapkan ternyata tidak
dilakukan. Ketika diminta pertanggungjawabannya, si pemimpin akan memberikan
alasan, permintaan maaf, dan janji.
Gaya Kepemimpinan Diplomatis
Kelebihan gaya kepemimpinan diplomatis ini
ada di penempatan perspektifnya. Banya k
orang seringkali melihat dari satu sisi, yaitu sisi keuntungan dirinya.
Sisanya, melihat dari sisi keuntungan lawannya. Hanya pemimpin dengan
kepribadian putih ini yang bisa melihat kedua sisi, dengan jelas! Apa yang
menguntungkan dirinya, dan juga menguntungkan lawannya.
Kesabaran dan kepasifan adalah kelemahan pemimpin dengan gaya diplomatis ini.
Umumnya, mereka sangat sabar dan sanggup menerima tekanan. Namun kesabarannya
ini bisa sangat keterlaluan. Mereka bisa menerima perlakuan yang tidak
menyengangkan tersebut, tetapi pengikut-pengikutnya tidak. Dan seringkali hal
inilah yang membuat para pengikutnya meninggalkan si pemimpin.
Gaya Kepemimpinan Otoriter
Kelebihan model kepemimpinan otoriter ini
ada di pencapaian prestasinya. Tidak ada satupun tembok yang mampu menghalangi
langkah pemimpin ini. Ketika dia memutuskan suatu tujuan, itu adalah harga
mati, tidak ada alasan, yang ada adalah hasil. Langkah – langkahnya penuh
perhitungan dan sistematis.
Dingin dan sedikit kejam adalah kelemahan pemimpin dengan kepribadian merah
ini. Mereka sangat mementingkan tujuan sehingga tidak pernah peduli dengan
cara. Makan atau dimakan adalah prinsip hidupnya.
Gaya Kepemimpinan Moralis
Kelebihan dari gaya kepemimpinan seperti ini
adalah umumnya Mereka hangat dan sopan kepada semua orang. Mereka memiliki
empati yang tinggi terhadap permasalahan para bawahannya, juga sabar, murah
hati Segala bentuk kebajikan ada dalam diri pemimpin ini. Orang – orang yang
datang karena kehangatannya terlepas dari segala kekurangannya.
Kelemahan dari pemimpinan seperti ini adalah emosinya. Rata orang seperti ini
sangat tidak stabil, kadang bisa tampak sedih dan mengerikan, kadang pula bisa
sangat menyenangkan dan bersahabat.
Jika saya menjadi pemimpin, Saya akan lebih memilih gaya kepemimpinan
demokratis.
Karena melalui gaya kepemimpinan seperti ini semua permasalahan dapat di
selesaikan dengan kerjasama antara atasan dan bawahan. Sehingga hubungan atasan
dan bawahan bisa terjalin dengan baik.
Perilaku seorang pemimpin ketika memimpin anak buah akan memperoleh tanggapan
atau reaksi dapat berupa sikap atau perilaku bawahan. Reaksi perilaku itu tidak
saja gerakan badan, tetapi termasuk ucapan, sepak terjang sebagai reaksi
pengikut terhadap kepemimpinan seorang pemimpin. Tanggapan itu dapat bersifat
terang-terangan atau tersembunyi dengan berbagai bentuk.
Seorang pemimpin memiliki hak untuk menyuarakan ide,
gagasan cemerlangnya kepada bawahan. Dan pemimpin juga harus mampu memiliki
sebuah kompetensi dan kapasitas untuk memimpin sebuah organisasi. Tetapi
sebagai pemimpin juga jangan pernah melupakan hak-hak seorang bawahan. Ide,
gagasan, pendapat yang mereka suarakan juga perlu di dengar dan di hargai.
Tujuannya agar tidak menuai sistem kerja yang otoriter. Maka hal ini perlu
adanya pemilihan yang jelas, dalam konteks melihat sisi latar belakangnya,
kompetensinya, pengalamannya, kapasitas dan kapabilitas untuk menjadi seorang
pemimpin.
Mengapa hal-hal tersebut sangat dibutuhkan untuk
menjadi seorang pemimpin? Karena sebagai memimpin memiliki rasa tanggung jawab
yang tinggi kepada bawahan dan masa depan organisasi. Bahkan terasa susah di
jalankan (implementasikan) apabila kita tidak memiliki hal-hal tersebut. Dan
terasa gampang jika kita memilikinya. Seperti lirik sebuah lagu “Mau dibawa
kemana”, organisasi ini kalau pemimpinnya saja tidak memiliki kompetensi yang
jelas. Kemungkinan seperti itu, bunyi tanggapan orang-orang yang ingin menjatuhkan
Anda sebagai seorang pemimpin.
Membahas sebuah Kapasitas, hal ini sangat dibutuhkan
untuk mengontrol sebuah sistem yang ada di organisasi tersebut. Tanpa adanya
sistem kontrol di sebuah organisasi, sudah jelas bawahan kalian akan pergi
meninggalkan organisasi yang kalian pimpin. Banyak mendapatkan kritikan dari
pihak internal maupun eksternal terhadap kinerja kalian sebagai pemimpin.
Disini saya ingin memberikan contoh sederhana dari seorang pemuda yang berhasil
memimpin organisasi non profit, namun pada akhirnya ia dianggap gagal oleh
pihak eksternal.
“Ada sebuah organisasi non profit yang bergerak di
bidang pendidikan dan memiliki skala nasional. Awalnya organisasi ini hanya
bisa dirasakan masyarakatnya di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung,
Jogjakarta, Surabaya. Tapi, organisasi ini sudah tersebar luas di setiap daerah
yang ada di Indonesia.
Maka ada salah seorang pemuda yang tertarik ingin
membuka cabang organisasi tersebut ke daerah ia tinggal. Organisasi ini
terbilang sangat populer dan mempunyai pengaruh yang begitu besar di ranah
online dan offline. Karena sistem kerjanya memadukan antara sistem online
(media sosial dan blog) sebagai ajang publikasinya dan offline sebagai bentuk
kegiatannya.
Ketika organisasi ini berhasil dibuka, pemuda ini
mulai menjalankan aksinya sebagai pemimpin. Hal yang pertama dilakukan pemuda
ini adalah merekrut orang-orang untuk bisa bekerjasama menjalankan setiap
aktivitasnya. Lalu, yang kedua adalah konsisten dalam melaksanakan
kegiatan-kegiatan yang sudah menjadi nyawa dari organisasi tersebut.
Hari demi hari, minggu berganti bulan, organisasi
ini terus berjalan sesuai apa yang menjadi persyaratan sebelum mengajukan diri
untuk membuka didaerah. Namun selang beberapa bulan kedepan, beberapa rekan
kerjanya mulai meninggalkannya di organisasi, dengan penjelasan mendapatkan
tawaran kerja di perusahaan asing dan ada yang setelah lulus kuliah ingin
pulang ke kampung halamannya untuk mengabdi sebagai guru. Kebetulan salah satu
rekan kerjanya adalah seorang mahasiswa lulusan pendidikan studi Bahasa
Inggris. Kejadian yang menimpanya itu, menyebabkan aktivitasnya mulai tersendat
akibat minimnya rekan kerja yang membantunya.
Mengingat latar belakang dan pengalamannya memimpin
sebuah organisasi sangat minim, bisa digaris bawahi NOL. Sehingga mencuat
sebuah kritikan, kekhawatiran orang-orang yang sama-sama memiliki kepentingan
di dunia pendidikan dan melakukan aksinya di ranah online dan offline. Kerap
terdengar opini-opini mereka yang menyimpulkan bahwa pemuda ini harus turun
dari jabatannya sebagai pemimpin. Anggapan mereka mulai timbul di ranah online
(media sosial, twitter) dikarenakan melihat adanya ketidakmampuam dalam
menjalankan aktivitas rutinnya di organisasi sebagaimana seharusnya yang
dilakukan di kota-kota lainnya. Tidak mempunyai kompetensi yang jelas. Tidak
mempunyai kapasitas untuk memimpin organisasi tersebut. Tidak pantas untuk
memimpin sebuah organisasi yang sifatnya nasional itu.
Setelah pemuda itu melihat langsung opini mereka
dari linimassa twitter dan mendengar dari bisik-bisik teman soal sindiran atau
ancaman ingin menurunkannya dari jabatan sebagai pemimpin organisasi tersebut,
pemuda ini terlihat sangat kaget dan tegang. Pada saat itu, dia selalu
bertanya-tanya,” apa salahku?” Dan Mengapa mereka lebih menyuarakan kritikannya
di linimassa twitter yang sifatnya ranah publik? Apakah tidak bisa di
diskusikan di forum saja, kalau memang menginginkan pergantian seorang
pemimpin?”
Nah, kasus diatas merupakan contoh dari seorang
pemimpin yang (dianggap) tidak memiliki kompetensi, pengalaman dan kapasitas
dalam memimpin sebuah organisasi oleh orang lain yang tidak menyukainya. Dalam
kasus diatas benar adanya seorang pemimpin wajib memiliki hal-hal dasar yang
harus dimiliki seorang pemimpin pada umumnya. Entah itu organisasi profit
maupun non profit sekalipun. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena sebuah
gerakan, rutinitas dan aktivitas yang terjadi di sebuah organisasi pasti ada
yang mengamati, baik dari internal maupun eksternal. Keduanya sudah menjadi hak
paten di dalam sebuah organisasi dan jangan pernah mengabaikannya.
Jadi, bisa dibilang menjadi pemimpin di sebuah
organisasi itu susah-susah gampang, salah mengambil tindakan atau tidak
beresnya melancarkan setiap pergerakan. Kalian akan di kritik, dihujat, diancam
bahkan dijatuhkan jabatan kalian, sebagai seorang pemimpin. Tetapi hal ini
tidak akan pernah terjadi, jika kalian memiliki prinsip, nilai-nilai,
konsep-konsep dasar kepemimpinan dan konsistensi dengan apa yang sudah
seharusnya menjadi kewajibanmu sebagai seorang pemimpin.
Satu hal lagi, pemimpin itu tidak dilahirkan,
melainkan diciptakan dan dibentuk melalui banyak proses, salah satunya
kritikan. Dan kalian juga harus ingat! tak selamanya teman akan selalu memihak
apa yang teman lakukan, kejamnya kehidupan adalah salah satu faktor yang
menyebabkan teman bukanlah teman, melainkan lawan. Dan menjadi pemimpin itu
adalah salah satu cara untuk mengetahui mana yang benar-benar teman dan mana
yang benar-benar lawan. Kuncinya adalah tetap berhati tulus kepada siapa saja
dan setiap menjalankan aktivitas.
Sumber :